Kamis, 11 Agustus 2011

Perbedaan Lele Sangkuriang dan Lele Dumbo

PEMBENIHAN DAN PERBAIKAN GENETIKA
IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus)  DENGAN METODE
SILANG BALIK (back cross) MENJADI
LELE SANGKURAING(Clarias sp)
DI BALAI BESAR PENGEMBANGAN BUDIDAYA AIR TAWAR (BBPBAT) SUKABUMI PROVINSI JAWA BARAT

Oleh: Febrian Hadinata

I. PENDAHULUAN
Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air Tawar yang sudah dibudidayakan secara luas oleh masyarakat terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, pemasarannya relatif mudah dan modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.
Pengembangan usaha budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Keunggulan lele dumbo dibanding lele lokal antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan terhadap penyakit. Namun demikian perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung pengelolaan induk yang baik menyebabkan lele dumbo mengalami penurunan kualitas. Hal ini karena adanya perkawinan sekerabat (inbreeding), seleksi induk yang salah atas penggunaan induk yang berkualitas rendah.
Sebagai upaya perbaikan mutu ikan lele dumbo, Balai Besar Pengembangan  Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi telah berhasil melakukan rekayasa genetik untuk menghasilkan lele dumbo strain baru yang diberi nama lele “Sangkuriang”.
Seperti halnya sifat biologi lele dumbo terdahulu, lele Sangkuriang tergolong omnivora. Di alam ataupun lingkungan budidaya, lele sangkuriang dapat memanfaatkan plankton, cacing, insekta, udang-udang kecil dan mollusca sebagai makanannya. Keunggulan dari lele sangkuriang ini diantaranya dapat dipijahkan sepanjang tahun, fekunditas telur yang tinggi, dapat hidup pada kondisi air yang marjinal dan efisiensi terhadap pakan yang tinggi.

II. SISTEMATIKA
2.1. Klasifikasi Lele Sangkuriang
Lele sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetika lele dumbo melalui silang balik (backcross).  Sehingga klasifikasinya sama dengan lele dumbo yakni:
Phyllum: Chordata, Kelas: Pisces, Subkelas : Teleostei, Ordo: Ostariophysi, Subordo: Siluroidea, Famili: Clariidae, Genus: Clarias, Spesies: Clarias sp (Lukito, 2002).
2.2. Proses Perbaikan Genetik
Lele Sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetik melalui cara silang balik (back cross) antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6). Kemudian menghasilkan jantan dan betina F2-6. Jantan F2-6 selanjutnya  dikawinkan dengan betina generasi kedua (F2) sehingga menghasilkan lele sangkuriang. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 1. Induk betina F2 merupakan koleksi yang ada di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi yang berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi dari Afrika ke Indonesia tahun 1985. Sedangkan induk jantan F6 merupakan sediaan induk yang ada di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi (Anonimus, 2007).
 Meskipun induk awal lele sangkuriang berasal dari ikan lele dumbo, antara keduanya tetap memiliki perbedaan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1.  Karakter Reproduksi Lele Sangkuriang dan Lele Dumbo
Deskripsi
Lele Sangkuriang
Lele Dumbo
Kematangan
8 – 9
4 – 5
Fekunditas (butir/kilogram induk betina)
40.000 – 60.000
20.000 – 30.000
Diameter telur (mm)
1,1 – 1,4
1,1 – 1,4
Lamanya inkubasi telur pada suhu 23o-24oC (jam)
30 – 36
30 – 36
Lamanya kantung telur terserap pada 23o-24oC (hari)
4 – 5
4 – 5
Derajat penetasan telur (%)
> 90
> 80
Sifat larva
Tidak kanibal
Tidak kanibal
Kelangsungan hidup larva (%)
90 – 95
90 – 95
Pakan alami larva
Moina sp. Daphnia sp. Tubifex sp.
Moina sp. Daphnia sp. Tubifex sp.
 Sumber: Effendi, 2004
2.3. Ciri-ciri Morfologi
Menurut Anonimus (2005) secara umum morfologi ikan lele sangkuriang tidak memiliki banyak perbedaan dengan lele dumbo yang selama ini banyak dibudidayakan.  Hal tersebut dikarenakan lele sangkuriang sendiri merupakan hasil silang dari induk lele dumbo. Tubuh ikan lele sangkuriang mempunyai bentuk tubuh memanjang, berkulit licin, berlendir, dan tidak bersisik.  
 Bentuk kepala menggepeng (depress), dengan mulut yang relatif lebar, mempunyai empat pasang sungut. Lele Sangkuriang memiliki tiga sirip tunggal, yakni sirip punggung, sirip ekor, dan sirip dubur.  Sementara itu, sirip yang yang berpasangan ada dua yakni sirip dada dan sirip perut. Pada sirip dada (pina thoracalis) dijumpai sepasang patil atau duri keras yang dapat digunakan untuk mempertahankan diri dan kadang-kadang dapat dipakai untuk berjalan dipermukaan tanah atau pematang. Pada bagian atas ruangan rongga insang terdapat alat pernapasan tambahan (organ arborescent), bentuknya seperti batang pohon yang penuh dengan kapiler-kapiler darah.
2.4. Habitat
Lele sangkuriang dapat hidup di lingkungan yang kualitas airnya sangat jelek.  Kualitas air yang baik untuk pertumbuhan yaitu kandungan O2 6 ppm,  CO2 kurang dari 12 ppm,  suhu (24 – 26) o C,  pH (6 – 7),  NH3 kurang  dari 1 ppm dan daya tembus matahari ke dalam air maksimum 30 cm (Lukito, 2002). 
2.5. Tingkah Laku
Ikan lele dikenal aktif pada malam hari (nokturnal). Pada siang hari, ikan lele lebih suka berdiam didalam lubang atau tempat yang tenang dan aliran air tidak terlalu deras. Ikan lele mempunyai kebiasaan mengaduk-aduk lumpur dasar untuk mencari binatang-binatang kecil (bentos) yang terletak di dasar perairan (Simanjutak, 1989 ).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar